<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=7178927&amp;blogName=Roy+Baroes+Yang+Tak+Terkuburkan&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http://baroes.blogspot.com/search&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http://baroes.blogspot.com/&amp;vt=3548822857836100745" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>
 




Roy Baroes


Moslem
Male
32
Aries
Geophysicist
Bandung-Jakarta
Sanguine, Perceptive
Workacholic
Contact's

Private email
roybaroes@jobppej-pps.com

public Email
roybaroes@yahoo.com

Twitter
www.twitter.com/roybaroes

Office Phone
021-5201682 ext 207

Moood's

Today mood is :
The current mood of baroes at www.imood.com

Jam Dinding


Journey Of The Day

Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Dan perjuangan....
Adalah pelaksanaan kata-kata!!

Merdeka!!!


W.S. Rendra (Alm)
Penting dan Perlu

Kejadian-kejadian berlalu seperti kilatan cahaya, hitam-, putih, hijau, biru dan ungu. hanya beberapa yang singgah dihati. Menyisakan jejak, membekaskan langkah.

Roy Baroes
Dikunjungi sebanyak kali semenjak 27 februari 2005
Teman Bertandang
 

Tuesday, May 24, 2011

Sebuah Ode Untuk Ical (Faisal Riza - Astonomi & PSIK ITB-97) 


Ical, kawanku...
Hujan disini terasa sedih sekali. Ia tidak jatuh bebas. Jatuh yang segaris lurus mantap menuju tanah seperti yang biasa kita jumpa. Tapi Ia melayang-layang di udara, ragu dan hampa. Terkadang ia turun, seolah malu menatap tanah, Begitu lemah. Maka sedetik ke depan ia melayang naik, menyamping, enggan. Ia basah, namun basahnya pun malu-malu.

Seorang dosen yang semula kita pandang bijak, menceramahi kita tentang filsafat payung dan hubungannya dengan hujan. Menurutnya, kita hidup di bumi ini harus selalu sedia payung jika datang musim penghujan.Hidup ini harus berjaga-jaga katanya, harus ada rencana ini dan itu untuk mengantisipasi terjadinya sesuatu. Tapi, pikirku pasti dia belum pernah melihat hujan yang sebenar-benarnya hujan. Hujan yang seperti kita punya. Hujan tanpa payung. Dan pasti dia tak pernah menikmati hujan seperti kita menikmatinya.

Hujan kita adalah hujan yang gagah kawan. Dengan berani aku katakan itu padamu. Ia turun bagai butir-butir peluru dimuntahkan dari senapan langit. Ia jatuh. Ohh bukan, Ia bukan jatuh, Ia terjun bebas lepas dari ketidakpastian, seperti pada masa-masa kegamangan yang berkali-kali kita alami bersama dimasa muda, berontak dari jiwa-jiwa kita, dibeberapa tahun yang lalu.

Hujan kita juga adalah hujan yang pemberani, Kawan. Jatuhnya menikam bak pisau ditancapkan sampai ke hulu hati. Menyirami kita dengan gemuruh semangat dan apinya yang membakar perjuangan kita pada masa itu, dalam gerakan mahasiswa menentang penguasa yang serakah.

Apakah engkau masih ingat kawan. Suatu ketika kita bersama teman-teman lainnya menggalang gerakan mahasiswa kampus, menggelar orasi mengobarkan reformasi.
Aku yakin engkau masih mengingatnya Kawan. Siang itu, jalan Ganesha yang awalnya terik panas tiba- tiba menjadi mendung kelabu. Lalu hujan pun jatuh seiring serbuan berlapis-lapis lebih pasukan polisi dan tentara yang menghancurkan barikade kita. Teman-teman pada barisan terdepan telah berjatuhan dihantam pukulan rotan, popor senjata dan gas air mata.

Kita terus bergerak maju Kawan, karena kita berdualah yang kini berada diantara barisan terdepan. Kita saling bergandengan saling jaga. Dada kita bergemuruh, kau dekap kuat-kuat lenganku agar aku tak terjatuh. Berkali-kali ayunan rotan pasukan huru-hara menghantam kepalaku dan kibasan tamengnya menyabet pelipisku. Darah merah pun pecah dari sana melumuri wajahku. Seketika itu kau pun murka, menggeram kau terjang semua tameng, kau rebut semua tongkat pemukul. Engkau menjelma bagai banteng marah yang terluka itu. Dan hasilnya, sore hari setelah semuanya usai, kita duduk - duduk bersama di kantin mahasiswa sambil menghitung dengan bangga berapa banyak memar dan luka yang kita terima.

Pernah suatu kali kita terjebak ditengah hujan, diatas sepeda motor. Sepeda Motor tua miliknya si Sigit, adik kelas kita. Honda bebek 70 berwarna merah marun lusuh, yang tanpa kaca spion dan lampu Sien, hingga aku harus menggunakan anggota tubuh guna memberi tanda saat berbelok ditingkungan. Kau pacu kencang sepeda motor tua itu menembuh derasnya hujan. Tiap butirnya mengiris tipis bagaikan silet, menelusuri permukaan kulit wajah dan mencerabuti tiap helai rambut gondrong kita, tanpa helm pelindung kepala, ngebut menuju kampus, mengejar waktu ujian mata kuliah Termodinamika.

Hujan kita saat itu sungguh gagah kawan.. Begitu gagah, segagah kita yang akhirnya tiba dikampus dengan basah kuyup, lalu ternyata ujian termodinamika saat itu ternyata ditunda.

Di tengah-tengah hujan, kita tak pernah perlu payung, tapi aku menjadi teringat padamu, suatu ketika kau memintaku mencarikan sebuah payung, payung yang besar untuk berdua pintamu . Hah…, aku rasa hal ini pasti sebuah keluarbiasaan yang ajaib dan aku tahu kau sedang jatuh cinta. Ah, Kau payah sekali waktu itu Kawan. Tampangmu begitu sangar, rambutmu gondrong panjang tapi hatimu termehek-mehek oleh lagu jatuh cinta. Payah sekali kau Kawan....Tapi kau tak peduli dengan olokanku dan engkau tetap pergi ke Jurusan Matematika, membawa payung pinjaman untuk menjemput gadis yang kau impikan.

Kita juga punya gerimis Kawan, aku ingat itu. Sebuah gaya gerimis yang melingkupi persahabatan kita dengan kesenduannya.

Gerimis kita itu mengandung sejuta kegelisahan kawan,kegelisahan atas realitas kehidupan di sekitar kita. Kegelisahan yang tercampur dengan kesedihan, tapi sedihnya tetap terasa begitu lugas. Seperti Seekor anak beruang yang menangisi kepergian induknya, Dia harus merelakannya agar hidup mereka tetap berkelanjutan. Seperti itulah gerimis kita jatuh berderap, terus dan terus. Pelan dan berat membuat sesak logika dalam otak kita. Betapa hati kita menjadi miris saat menyaksikan anak-anak kecil tak bisa sekolah karena tak ada biaya, betapa hati kita menangis ketika menyaksikan seorang ayah menangisi jasad anak dan istrinya yang meninggal terkubur menjadi korban bencana tanah longsor di musim penghujan.

Seperti itulah gerimis kita kawan, Seperti hidup yang tahu akan segera berakhir. Gerimis kita menitipkan semua kabar kesedihan kita, tetapi ia juga adalah sedih yang tidak begitu saja pasrah. Maka dengan begitu itu ia sama baiknya pada hujan masa lalu, Hujan itu, hujan kita, yang gagah dan kuat.

Aku teringat juga satu kali, berdua kita berdebat keras didalam ruangan unit kemahasiswaan. Saat itu hujan diluar begitu deras dan kita berselisih, saling menumpas. Tak satu kali aku bermaksud mengatakan apapun, tapi ini mengenai pilihan kataku, sedang engkau berkata ini tentang prinsip hidup yang tak boleh diserahkan begitu saja pada kekalahan, meski datangnya bertubi-tubi. Lalu kita berjanji untuk membuktikannya kepada dunia suatu hari ini nanti. Mungkin dari dalam ruangan itu, badai ambisi kita telah membuncah membelah pecah, merembes keluar, menjelma jadi hujan, menjadi badai. Badai yang meraung-raung mematangkan kita. Tak satupun payung di dunia ini yang cukup buat menahan badai yang kita bangkitkan itu.

Aku merindukanmu Kawan. Apalagi dikala hujan yang malu-malu seperti ini. Hujan yang remah, langit yang terlepas tanpa gayutan , dibuang dari keseluruhan.

Selamat ulang tahun kawan. Kami yang masih di dunia ini semakin menjadi tua, sementara Engkau tentu saja tetap selalu muda dan bergairah disana..

Semoga Allah memberikan Ampunan padamu dan menempatkanmu di Surga-Nya, sehingga kita dapat berkumpul lagi bersama disuatu saat nanti..

Amin....

Roy Baroes -Geofisika- PSIK ITB 97

In Memoriam

Faisal Riza (Ical) Astronomi – PSIK ITB 97




Wednesday, November 10, 2010

Hujan Bulan November (lagi..) 


Hawa hujan kota bandung terasa dekat sekali dibulan November seperti ini. Komentar beberapa teman lama tentang udara Bandung yang basah, tanah yang basah, tirai jendela dan dedaunan basah oleh titik-titik air yang jatuh dari langit memang selalu menyenangkan untuk dinikmati. Membawa ingatan ke masa lalu, tak bergerak dan selalu ada disana.

Kita pernah begitu dekat.. saling berdekatan ketika bias pecahan air hujan dikaca jendela depan kantin mahasiswa menyerbu tubuh kita. Air hujan memang tidak pernah peduli dengan keadaan kita, haru biru kita atau tujuan kita yang terhalang oleh hujan-hujan ini.

Kita memang sesaat ini mengeluh, tapi itu hanya untuk sementara saja, karena tak lama waktu berselang, engkau dengan riang mengamati jatuhnya titik-titik air hujan tepat kedalam genangan, yang lalu berebutan untuk mengalir ke selokan di depan kita. Engkau berkata " Inilah yang menyebabkan berkali-kali Aku jatuh cinta pada hujan yang seperti ini."

Sesungguhnyalah aku berniat menghentikan hujan kali in. Aku tak ingin kita terjebak lama di sini. Tetapi sepertinya engkau tahu itu, dan memberi isyarat menghalanginya. Aku tahu engkau sendiri tak menyangsikan kemampuanku untuk menghentikan hujan sederas apapun, kapanpun. Karena aku sesungguhnya telah beberapa kali lulus ujian dengan gemilang untuk mata kuliah meteorology, bersama si Roy Baroes, anak jurusan Geofisika yang menjanjikan kesaktian tersebut jika mau menemaninya mengambil mata kuliah itu bersamanya.

Atau paling tidak, aku bisa saja menggunakan Ilmu hitam pemberian si Trobas, yang cukup ampuh menghentikan hujan dengan hanya meletakkan beberapa potong rumput di saku bajunya, lalu menari-nari, berputar sambil mengucapkan mantera dan jampi-jampi. Tapi aku tidak ingin seperti Si Trobas. Aku ingin menjadi diri sendiri disaat kita bersama. Menjadi apa adaanya secara sederhana.

Ternyata hujan tumpah kebumi kali ini tidaklah lama. Walaupun masih jatuh titik-titik tipis sisanya dari angkasa, tapi telah cukup reda bagi kita untuk terus melanjutkan perjalanan. Hendak kuraih tanganmu, agar kita segera beranjak, tetapi engaku telah lebih dahulu melesat bagai anak-anak burung Prenjak yang menari riang di pucuk-pucuk dedaunan teh. Udara yang segar sehabis hujan membuat engkau melonjak kegirangan. Berlari-lari kecil di sepanjang trotoar jalan Boulevards, lalu berputar ke arah pelataran Tugu Sukarno dan memandang lepas kedepan, kearah gerbang kampus..

Pandangan matamu berbinar tegas, menerobos jejak-jejak hujan yang jatuh dari sela-sela daun pohon Mahoni sepanjang jalan Boluevard kampus didepanmu, sinar matamu cemerlang menyapu bunga-bunga terompet orange dan bunga kertas yang mekarnya disegarkan oleh hujan diatap gerbang kampus kita. Sementara diarah sebaliknya, punggung gunung Tangkuban Perahu yang biasa berdiri gagah, hari ini sedang berselimut kabut.

Engkau terlihat mulai basah di luar sana, pecahan sisa hujan semakin mengerubungimu. Aku sendiri mulai risau, tapi engkau seperti tahu kerisauanku dan selalu berhasil meredakan semua risau itu.

" Ga apa-apa, aku kuat kok kalau hanya hujan kecil seperti ini". Engkau tersenyum. Senyuman yang seperti senyuman milik Bidadari dari langit sorga. Membuat segala risauku pergi dan aku menikmati setiap detik kebahagiannya.

"Ayo kita ke labnya si Roy..., Pasti jam segini dia masih tidur..apalagi hujan begini.Dasar tuh anak!" serumu tiba-tiba.
Engkau meraih tanganku seakan ingin mengajakku untuk terbang, lompatan-lompatan waktu terasa begitu cepat bagiku. Engkau sudah mendekat kembali hingga aku bisa melihat titik air yang bergayut di anak rambutmu.

" Ayolah.... kalau dia ga mau bangun, kita guyur aja.. ya.." balasku.
"iya.. hi..hi..." engkau tertawa dengan renyah.

Kali ini tujuan kita adalah membangunkan si Roy yang pasti masih tidur di Labnya, Labtek biru yang terletak dibelakang gedung Oktagon, bersebelahan dengan jurusan Biologi dan berhadapan dengan jurusan Teknik kimia. Si Roy ini memang suka bangun siang, sebagai konsekuensi dia ikut dalam project dosennya, katanya agar bisa bayar uang kuliah semester depan.

Bangunnya siang, sering telat kuliah, sering telat juga bayar uang kuliah. kami sering bersama dalam suka dan duka,dimana aku sangat percaya pada prinsip serta keteguhan anak muda yang sejak lulus sekolah menengahnya sudah merantau dari kampung kelahiranya di pulau sumatra. Dan selama ini hampir tidak ada rahasia yang menjadi penting dan tidak terjaga teguh diantara kami berdua.

Engkau berjalan ringan dengan kaki-kaki mungilmu mendahuluiku beberapa jarak langkah. Melewati Kembali Tugu Sukarno, terus melintasi kolam Indonesia tenggelam, berbelok didepan plaza Widya, menyusuri koridor ruang Kuliah Teknik Fisika dan terus hingga kita sampai di selasar labtek biru. Berhenti didepan jendela sebuah lab yang terbuka.
Engkau berlari kecil agar lebih cepat sampai kesana.

Di depan jendela kaca lab, engkau melongok seketika ke dalamnya dan berteriak
" Roooyyyy!!.. Bangun!!!!". Beberapa detik beranjak, engkau kaku seketika hingga aku tiba tepat dibelakangmu. Hening.. semua terdiam.
Di dalam Lab penuh orang, kebanyakan mahasiswa dan beberapa Dosen ada disana.Ternyata Roy tidak ada..

" Maaf Mbak, Roy nya tidak ada.Tadi pagi sudah keluar, coba cari di ruangan Himpunan, atau di unitnya di PSIK." Ujar seseorang yang mungkin dosen.
Wah.. gawat ini pikirku, Aku melihat engkau beringsut pelan kabur dari pandangan mereka yang masih lekat kepadaku.
"Maaf Pak, mengganggu. Roynya udah keluar ya? kalau begitu kami coba cari ke Himpunan atau ke PSIK aja. Permisi" ujarku.
Sementara Engkau sudah tertawa cekikikan , menjauh dari bawah jendela.
" Awas yah kamu..."

Kali ini kita berjalan sejajar menyusuri koridor labtek biru, keluar disamping gedung GSG dan gedung PAU. Kejadian tadi paling tidak meredakan riak-riak mu yang bagai burung Prenjak itu.

" Heh.. Lain kali ga boleh begitu ya.."
" Maaaffff.. biasanya si Roy tidur dibawah jendela itu kok... ga tahu kalau dia udah bangun.Pasti dia pindah tidur ke PSIK karena diusir dari Labnya" ujarmu dengan binar bola mata yang mekar bagaikan matahari yang terbit membawa ide cemerlang.

" Bisa aja Si Roy banyak kerjaan malam tadi, terus ga enak sama dosen dan mahasiswa lain, jadi dia pagi-pagi pindah ke PSIK" ujarku sekenanya.
" Aha..! berarti kita jadi dong kita guyur.. he.hee".

Hujan sudah habis... bau tanah basah menyebar masuk ke paru-paru hingga kita tiba di depan PSIK,SC-W09.. Sunyi senyap secara tidak biasa. Mesin fotokopi yang menjadi saksi bisu aktifitas anak-anak PSIK juga tidak bersuara. Engkau berjingkat pelan kedalam, lalu menoleh ke arahku sambil meletakkan jari telunjuk dipinggiran bibirmu, " Ssssstt, ada Ebonk, Roy, sama Erik tuh.... he..he."

Ujung mataku melirik kedalam ruangan, Roy, Ebonk dan Erik tidur berpelukan dengan berbagai macam gaya, bertumpuk dalam dipan kecil, berebut Sleeping bag yang kumal dan satu-satunya.. Sejenak hening, aku beranjak duduk di depan pintu diseberang jendela kaca, lalu tiba-tiba..

"Baaaannngggguunnnn... ada banjir !!!! bangunnnnn... cepaattt" suaramu membahana membahana sambil menyiprat-nyipratkan air dari sebotol air mineral. suasana heboh... 3 orang yang sedang tidur didalam ruangan sontak berhamburan keluar dengan muka bantal..

Engkau tertawa riang melihat semuanya.. Riang yang membawa jiwaku berhamburan ke angkasa..tempat kini aku berada..

Jakarta, 10 November 2010
Kepada sahabat dan pahlawan kami.

Catatan :
PSIK : Perkumpulan Study Ilmu Kemasyarakatan,
SC-W09 : Alamat Sekretariat PSIK


Sunday, April 11, 2010

Garis- Garis Dan Peluru 




Garis-garis dan Peluru
Sebuah catatan mengenang hari kelahiran, mengingat hari kematian.

Matahari berlari kecil menuju senja yang diburu oleh sisa anak-anak hujan di pantai ini. Tapak-tapak kaki yang tertinggal saling berkejaran membentuk titik-titik kecil dan bersatu menjadi garis, dan ini adalah sebuah kontemplasi saat dengan sadar sisa hidup tak bisa ditambah, sebuah catatan pada hari kelahiran.

Aku sudah berjalan sejauh ini, sementara aku sudah ditinggalkan oleh masa lalu. Ical yang sudah mendului, rekan muda yang mati muda, telah menyelesaikan tugasnya. Sebuah kehangatan yang dulu pernah begitu kental. Dan hari ini aku tulis namanya dengan sengaja. Menjadi semacam ornamen - ornamen pengikat dalam figura jiwa.

Aku sudah berjalan sejauh ini mengejar matahari yang berlari kecil. Aku yang memanggul doa menuju puncak bukit dan ingin menggelindingkannya untuk menggulung waktu. Jejak-jejak kakiku menjadi titik dan terkait menjadi garis-garis dalam spektrum hijau dan biru. Aku mengenangnya.. Semacam romantisme.Tapi garis-garis bukan penuntunku, mereka sempadanku.


Hari ini aku seperti duduk dibangku taman. Usia telah bertambah dan besok pasti tidak akan sama. Sebuah lampu yang tidak cukup terang menciptakan remang dalam ruang komtemplasi. Aku merasa seperti sebutir peluru kini, harus dengan keras menerjang apapun yang harus aku tembus dari arah aku ditembakkan, tanpa aku bisa mengubahnya, menahannya atau bersikap durhaka atas-NYA.

Tuhan,
Tunjukilah aku jalan-Mu yang lurus, untuk hari ini, esok dan semua lusa yang tersisa.....


Thursday, June 28, 2007

respirasi 



Seandainya saja ...
hasrat untuk mencintai adalah seperti sebuah proses respirasi,
maka ijinkanlah aku bernafas untukmu...
disetiap waktuku.


Roy Baroes





Tuesday, May 01, 2007

Galaksi Bima Sakti 



Ini adalah galaksi Milky Way yang dalam buku pelajaran sewaktu saya di sekolah dasar diberi nama Galaksi Bimasakti. Di dalam galaksi Bima Sakti, terdapat sistim tata surya bernama matahari yang merupakan sumber cahaya dan energi untuk planet-planet didalamnya.

Lalu didalam tata surya tersebut ada planet yang bernama bumi, bahasa inggrisnya :"Earth".
nah didalam bumi iniada negara bernama Indonesia Raya yang menurut dongeng sang kakek, Indonesia sejak dahulu terkenal dengan sebutan Jamrud Khatulistiwa.

Indonesia ini memiliki ibukota yang bernama Jakarta. Di Kota Jakarta ada tersebut ada gedung Patra Jasa yang terletak di jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Di dalam Gedung Patra jasa lantai 5, wing 507 ada ruangan Divisi Explorasi JOB Pertamina Petrochina. Di dalam ruangan tersebut terdapat Roy Baroes yang sedang disuruh-suruh dan dimarah-marah mulu ama bosnya :

Sayup -sayup dialog antara Roy dan Sang Bos :
Si Bos : "Roy, udah dapat belom koordinat sumber minyaknya?"
Si Roy : "Udah dapat Bos!"
Si Bos : "Wah.. Mantap. Mantap!, dimana?"
SI Roy : "Ga jauh Bos, tuh.. di sebelah.. ada POM Bensin"
Si Bos : "Hah! Dasar Bahlul.. Ku potong yah gaji Kau bulan Ini!!"
Si Roy : "Wak!!!"

Jadi Kalau kamu melihat dengan betul-betul Galaksi ini, engkau akan melihat si Bos sedang latihan lempar lembing. sementara roy baroes jadi sasarannya.


Saturday, April 07, 2007

Bandung, malam sehabis hujan 


Malam ini hujan baru saja reda.
Aku ada di PSIK, bareng ical dan anak-anak PSIK

Sehabis hujan, langit disini terang benderang. Awan tipis di beberapa tempat, namun tak menghalangi benda-benda langit untuk terlihat.

Ada banyak bintang, aku sedang memilih salah satunya.
Tapi karena bingung, mungkin aku kirim aja semuanya.

Jadi malam ini aku tidak jadi mengirim satu bintang, tapi aku kirim semuanya. Satu Galaksi.
Aku kirim satu galaksi ke Boston.

Semoga disana terang benderang.

Roy


Wednesday, March 14, 2007

Keunguan 2 [tamat] 


Keunguan 2


Kita tak pernah sepakat untuk menyemir langit,
Tapi malam tetap datang.
Dan ternyata aku tak kuasa menahan matahari agar tidak tenggelam.

Roy hanya diam. Ical juga tak berkomentar. Aan sebagai junior,menyibukkan diri dengan memesan kopi dan rokok buat para senior. Ia tampak tak ingin terlibat. Ebonk masih berkutat dengan pemikirannya, Ia juga merasa serba salah. Erik sendiri terlihat lelah.

Ical menggerakkan tangannya, memberikan isyarat kepada Dedi dan Pepen agar tetap aja ditempat.
"Jangan gegabah, Ini ini masalah pelik. Biar dia yang ngeberesin..." Ical berbisik.
Dedi dan pepen pun beringsut mundur..

Waktu terasa berhenti, detik - detik terasa lambat..

"Sudahlah... Tak perlu diteruskan.." Roy angkat bicara memecah keheningan."Gak ada gunanya. ..."Ia membalikkan tubuhnya, dan berjalan menjauh..

Serentak yang lainnya melepaskan nafas lega. Mereka semua setuju. Mereka perlahan meninggalkan tempat itu dan berjalan menyusul roy.

Mengalah bukan berarti kalah....


Sekian....
TAMAT

Epilog:
Postingan terakhir ini didedikasikan kepada teman-teman saya ,yang setia menanti kelanjutan dari cerita ini. Mohon maaf karena cerita terpaksa saya tamatkan atas permintaan sesorang, atau surat kaleng yang saya terima tanpa nama(Anonymous) yang mungkin merasa tidak nyaman dengan cerita ini.

Buat Ical, Erik, Ebonk dan pelaku-pelaku utama dalam cerita ini. Juga Aan, Dedi, Pepen, Andina, leni, Melinda, Beny Yusron, Sita,Mang Kus, Satpam ITB dan Pak Maman (TU Geofisika) sebagai pemain figuran saya ucapkan terima kasih. Tenang saja,Cerita ini sudah lengkap namun terpaksa tidak dipublish untuk sementara waktu.
Mungkin kita bikin Novel saja. Siapa tahu lebih laris dari JOmblO! The Novel...


Salam,





Monday, January 08, 2007

Keunguan I 


Pukul 02 malam,
sudah cukup larut. Ia laki-laki yang masih tetap saja masih duduk di depan laptop dengan isi kepala yang berkecamuk dan pointer mouse yang liar menjelajahi alam maya.Diluar hujan baru saja reda. Secangkir kopi yang mulai dingin sedingin tatapan mata.

Outlook Expres...
Inbox..
Messages..

From: "dipo satria"
To: tewembem@e-xxxxx.com
Subject: Re: luv u


Setelah gue pikir2x,
apa yach. Gue sebenernya pecaya banget kalo loe sayang banget (i really do, sometimes i cant imagine how many thing you went through before last August 19, god that was a beatiful night).

Heres the deal tapi, gue cemburu banget (gak tau kenapa abis peristiwa oting, kayanya gue amat sangat ngerasa kalo gue perlu ngungkapin perasaan cemburu gue). For example, gak tau kenapa gue tadi iseng lagi maen friendster, abis bosen seharian sakit. Trus gue liat punya Roy, nah trus di interest nya ada nama loe?? I mean how am i supposed to react? Dan apa yach... gue bener gak tau tanggapan loe terhadap hal itu. Gue gak tau apa gue musti sok cool, apa musti ngapain. Mana gue sakit lagi. tai asli tai banget.

Din. oh god, just tell me somethin. I mean, i understand i guess how he feels. But god, i luv u. Tell me how u feels for him?

Shit, i feel like such a loser. I dont write freakin poems, im nobody. I got nothing to offer.
But for real, what do you want me to react? And i mean, somehow, i dunno just a feeling. I really do think he still contact you, its just an assumption. Probably a bad one. I dunno. I just have a feeling that he does. I have a feeling you're not answering. But shit din. I mean how am i supposed to react?

Tell me im wrong. I mean tell me anything. Tell me my assumption is so wrong and it means nothing and it shows my distrust on you. god, tell me somethin.

I luv u


D.S


Messages..
Mark as unread
Close


Ia bergegas, Hujan telah benar-benar reda ternyata.
Dia menyibak tirai jendela. Ical, Erik dan Ebonk sedang bergitar dan bernyanyi di beranda PSIK. Bau tanah selepas hujan masih menyengat . Ada beberapa cangkir kopi hangat disana.

"Ayo Roy, ngapain ngintip-ngintip,Gabung sinih.." Teriak Ical dari seberang kaca tembus pandang.

Erik sedang memetik gitar, ebonk bernyanyi .Suaranya Cempreng seperti kaleng.
"Masih ada kopinya ga?" balasnya
"Masih bro, masih hangat"
"Ok"

Roy beranjak keluar ruangan menuju beranda. Suasana kampus kala malam sehabis hujan sangat terang. Bulan purnama mulai keluar dari kabut awan. Dia mencoba tidak galau.

"Ayo kita nyanyi, lupakan gundah dihati..." Ebonk tambah semangat.
Roy Mengambil alih gitar, Ical perkusi, Erik nyanyi dan Ebonk striptease
Mereka berempat dengan sukses terlihat seperti sekelompok orang yang cacat secara kejiwaan. Beberapa penduduk kampus yang masih lalu-lalang menggelengkan kepala.

Mereka ketawa-ketawi, saling cela. Sejenak Roy larut dalam suasana. Tapi Ical tahu apa yang berkecamuk didalam benak sobatnya.


Monday, November 27, 2006

Se-Permen Fox's 



Kamu tuh ya..
Punya senyuman yang manis banget loh!
Semanis Permen Fox's
Sudahlah manis, berkilauan pula..

Semoga lain waktu kita bisa bertemu
Dan kamu...
Semakin manis, semakin berkilau.


Thursday, November 23, 2006

Dalam Diam 



Tinggalkan aku berdiam diri sendiri

Karena dalam diam,
masih ada senyummu yang tersisa seperti cahaya
hijau dan biru


Saturday, November 18, 2006

Kota Bandung, Hujan Bulan November. 


Kota Bandung, Hujan Bulan November....

Aku berdiri disitu, tapi kau tak menyadari kehadiranku. Pecahan hujan mungkin sedikit mengaburkan kesadaran tersebut atau mungkin engkau memang sedang larut menikmati hujan kali ini yang menyejukkan sebagaimana aku menikmati engkau dari arah yang bersebrangan, dan tak ingin mengusik untuk sementara.

wish you're still remember that i hate getting wet. I just hate it like a big spoiled cat, but with you, together we are always enjoy when rain fallin from the sky. I took of my hat and bring down my umbrella to enjoy getting wet. as i was twirling my umbrella and deliberately walking into the puddles.

i remember too, we were just consciously and joyfully walking in the rain.



Thursday, November 02, 2006

Mendung dan Kepergian 



Sayang, aku lihat siang ini mendung menggelayut lagi di langit kota kita. Sudah semalaman hujan turun dan mungkin akan turun lagi malam ini. Bahkan lebih awal.Mungkin bagi sebagian orang hujan yang turun semalaman adalah berkah. setelah kemarau panjang yang mengeringkan tanah tempat kita berpijak.Pohon - pohon yang meranggaskan daunnya kembali hijau. Sungai yang mengering kembali mengalir serta sumur- sumur penduduk juga kembali memberikan kehidupan.

Memang mendung yang dilangit seperti ini selalu mampir beberapa hari terakhir.aku rasa semua orang tahu itu. Tapi mendung - mendung tersebut bagi kita bukan yang mendung biasanya sayang. Selain mendung ini tertangkap oleh mata, tapi ternyata ada mendung di hati kita. Ya, sebentuk mendung dilangit yang mendungnya sampai ke hati.

Sayang, tidak terasa sudah setahun kita bersama.Aku yang bengal dan ceroboh ini selalu bisa engkau sikapi dengan sabar. Sebuah kesabaran yang lahir dari ketulusan. Sebuah ketulusan darimu yang secara pelan dan diam-diam menjadi sebuah ketergantungan untukku. Sebagaimana ketergantungan pohon atas air hujan. sebagaimana ketergantungan daun - daun pada cahaya mentari. Seperti itulah aku pada adanya engkau.

Memang benar ucapan seorang teman lama, bahwa sesuatu hal akan sangat terasa berarti ketika akan dan telah pergi. Begitu berharga setelah hilang. Mungkin inilah interpretasi mendung yang menggelayut di hati saat ini.Meskipun sementara, tapi mendung ini kian tebal saat aku tak kuasa untuk menahan kepergianmu, meskipun kepergian sementara.

Seperti yang aku katakan tadi, berat sekali rasanya untuk melepaskan diri dari ketergantungan dan keteraturan yang telah engaku ciptakan.Mungkin tak ada lagi yang akan merapikan ruangan kerjaku, tak ada lagi yang merapikan buku-buku yang berantakan di meja belajarku, tak ada lagi yang bisa aku telpon 1 jam penuh sebelum tidur, yang ngingatin untuk sholat, juga tak ada lagi yang ngebangunin aku pagi-pagi agar tidak terlambat masuk kantor (Semoga saja di tempat kamu bertugas nanti, ada sinyal nya :D ).Sekarang tampaknya semakin berat kalau kamu jauh.Aku serius...

Aku doakan kamu baik-baik saja selama menunaikan masa bakti.Pandai-pandai bawa diri. Banyak belajar dan berdoa.Aku yakin kamu pasti bisa berhasil melewati semua ini. Menjadi Dokter adalah sesuatu pekerjaan mulia dan aku bangga sekali sama dirimu.

Begitulah sayang, Aku akan merindukan dirimu dan semoga mendung ini bisa menjadi mendung yang baik bagi kita...

 




Cari Artikel Lama

Bundelan

GO-BLOGS

  • Reni Hairani
  • Cello
  • ferry TI
  • Liza Pratiwi
  • Ridwan
  • Rani eggophilia
  • Amal
  • Ebonk 97
  • Erik 97
  • Nurri Laila
  • Beny Yusron
  • Pepen
  • Ical
  • SHOUTBOX


    Side Blog