Roy Baroes Yang Tak Terkuburkan
Akhirnya hidup itu terlahir kembali dan menjadi lebih ringan....
Friday, June 26, 2026
Senja dari kaca jendela
Aku selalu suka pada senja yang seperti itu
terjebak diantara dinding-dinding gedung bertingkat
sejajar dengan jendela, sejajar dengan merahnya
dan ada antrian kendaraan yang terjebak macet di jalan raya
aku selalu menyukai senja yang seperti itu
senja dengan debar-debar pada frekuensi yang harmonik
beserta beberapa pergeseran fasa yang selalu sinergis
dan kaca jendela tembus pandang sampai ke langit
aku selalu suka pada senja
dan engkau selalu tahu hal itu.
Manusia Bodoh
Hanya aku manusia bodoh
...
( Manusia Bodoh, Ada band)
Untuk menghadapi ujian Seleksi S2 Geofisika Reservoar UI, Roy Baroes sudah mempelajari soal-soal TPA, baca buku Bahasa Indonesia yang dibeli bareng Dinda di Pasar Senen tempo hari, termasuk membaca kembali buku gramar Bahasa Inggris. Bahkan agar tidak telat , Roy Baroes sudah minta agar dinda ngebangunin dia pagi-pagi jam 5 subuh.
Jam 5 subuh Dinda nelpon ngebangunin Roy Baroes, Bela-belain pake HP ayahnya karena Dinda lagi tidak punya pulsa. Roy Baroes terharu dan berjanji akan melaksanakan ujian dengan bersngguh sungguh. Terus sholat subuh, mandi dan sarapan.
Jam 6.15 Roy Baroes sudah berada di Helte dekat kantornya, menunggu bis 48 jurusan Tanah Abang - Depok. Jam 6.40 belom juga dapat bis, Roy Baroes mulai cemas dan panik. soalnya ujian dilakukan jam 8.30 WIB dan macetnya menuju depok itu minta ampun jam segini.
Hampir saja Roy Baroes putus asa dan memutuskan untuk naik taksi menuju UI depok, tapi ternyata tak lama kemudian bis yang ditunggu-tunggu lewat. Roy Baroes memilih naik bis aja, dengan ongkos 3500 perak sampai ke Depok.
Roy Baroes turun di depan Gunadarma. Karena menurut dinda, berhenti di depan Gunadarma aja, Lalu ada jalan masuk ke UI melintas rel kereta api. Atau tanya aja ke orang-orang di mana letaknya Balairung UI.
Kebetulan, didekatnya ada cewek berambut panjang melewati bahu, tinggi, langsing, seksi dan cantik.
Roy Baroes : "Selamat Pagi Mbak, perkenalkan nama saya Roy Baroes."
Sang Gadis : "..."
Roy Baroes : "Nama Mbak siapa?"
Sang Gadis : "Ada apa?Perasaan tagihan telpon saya sudah dibayar kok mas!"
Roy Baroes : "Bukan begitu Mbak, saya ini Alumni ITB, Mau ujian masuk S2 UI"
Sang Gadis : "Kalo anak ITB, emang kenafa ?"
Roy Baroes : "Saya mau nanya, letak Balairung UI ada di mana?
Sang Gadis : "Kamu masuk aja lewat sebelah Gunadarma, entar ada papan petunjuk dimana lokasi Balairung"
Roy Baroes : "Terima kasih Mbak,Oh ya.. Nama Mbak siapa tadi?. Ini kartu nama saya."
Sang GAdis : "Hem.. Nama saya Dian Zoro"
Roy Baroes : "Oh...."
Jarum jam di tangan sudah menunjukkan pukul 08.25. tepat saat Roy baroes tiba di depan Balairung UI. Tapi heran.. kok tidak ada tanda-tanda kehidupan atau aktifitas sedikitpun. Untuk memastikannya, Roy Baroes mengelilingi balairung UI sebanyak 3 kali. tapi tetap saja Roy Baroes tidak menemukan adanya aktifitas yang layak disebut Ujian saringan masuk S2 Universitas Indonesia. Atau Barangkali di UI Ujiannya tak kelihatan alias kasat mata?.
Lalu Roy Baroes melakukan konfirmasi ulang untuk mencari korelasi antara keberadaannya di depan Balairung dengan jadwal ujiannya.
Pertama : Lokasi Ujian Balairung UI Depok. OK!
Kedua : Tanggal Ujian 2 dan 3. Sudah Benar!
Ketiga : Bulan Juli 2005 . Hwaaaaaa.... Sekarang kan masih bulan juni 2005..
Bodoh!!!Dasar Roy Baroes Bodoh.. Memalukan!!! Bikin malu almamater saja!. Pantasan tidak ada aktifitas ujian di balairung. Ternyata masih satu bulan lagi. Memalukan!!
Ternyata Roy Baroes memang bodoh. ya... Manusia Bodoh!
(Jadwal Ujian S2 UI)
A Tribute to Faizal Riza
BLOG INI AKHIRNYA AKU DEDIKASIKAN UNTUK SEORANG REKAN YANG BERNAMA FAIZAL RIZA (ICAL), YANG TELAH MENYELESAIKAN TUGAS DAN KEWAJIBAN SEBAGAI SEORANG MANUSIA DI MUKA BUMI INI DAN TELAH MENDAHULUI KAMI MENGHADAP SANG PENCIPTA DENGAN DAMAI.
SELAMAT JALAN KAWAN!!!!!
KAMI DOAKAN ENGKAU MENDAPATKAN TEMPAT YANG TERBAIK DI SISI ALLAH SWT.AMIIN
JAKARTA, 31 OKTOBER 2008
SAHABAT, SAUDARA DAN SEILMU
ROY BAROES - FAISAL RIZA - ERIK WAHYU
Aku ingin melukis untukmu
entahlah, melukis apa saja
aku sendiri tidak tahu apakah aku bisa atau tidak
aku ingin menyenangkan hatimu,
dan semoga dapat membuat engkau begitu bahagia
itu saja dan semoga Tuhan mengabulkannya
Cermin yang kurakit untukmu
dalam ketidak seimbangan antara harapan dan beban
dari sampah-sampah keputus-asaan

aku rakit semua serpihan dengan perlahan
beberapa serpihan lukai jari-jari, saat menyatukan mereka
semoga masih ada gunanya cermin retak ini
paling tidak, walaupun terlihat buram dan samar
dapat engkau gunakan untuk sedikit berkaca.
tentang hidup dan semua yang telah dijalani
aku akan terus berjalan, sementara langit biru masih sangat luas
Roy Baroes
Thursday, June 02, 2016
Makan 5 ngakunya 3
Thursday, April 09, 2015
T.H.E. S.I.G.I.T Part 1
Dan kami, untuk sementara terdiri dari beberapa orang angkatan 97 dan beberapa angkatan 98 di secretariat PSIK (Perkumpulan Study Ilmu Kemasyarakatan) ITB dan untuk sementara ini, yang sudah berkumpul angkatan 97 adalah aku, Ical, Erik dan Ebonk. Sebenarnya Ebonk baru saja datang, tak lama hanya sepeminuman teh botol saja berselang dengan kedatangan Erik dari jurusan fisika.dari angkatan 98 adalah Alga Indira, Gilang dan Andi DC. Mereka ini dari Fakultas seni rupa, ada juga Nuha, mahasiswi cantik, bukan dari seni rupa, tapi dari jurusan fisika juga.Sore itu ada berita menggemparkan. Seseorang yang bernama Sigit, angkatan 98, Presiden PSIK terbaru yang dinobatkan jadi presiden setelah dipaksa oleh Ebonk untuk mengkudeta dirinya, hari ini lenyap tanpa bekas. Tak satupun yang tahu sigit ini ada dimana. Perdebatan terjadi dimana-mana, antara hilang, lenyap atau moksa.
Kepala regu 2, yang kebetulan adalah pimpinan atas regu jaga saat itu segera melipir menuju ke posko satpam depan kampus, dekat gerbang ganesha.sesuai perintah komandannya, dia segera melakukan brifieng. Semuanya sejumlah 67 orang personel pengamanan kampus termasuk dirinya, hampir seluruh kekuataankecuali kang asep, satpam kampus yang sedang jaga posko keluar masuk mobil dan mencegah Para skater yang sering merusak pot bunga tersebut, yang masuk di pintu belakang dekat perpusatakaan..Wednesday, December 31, 2014
Tahun belajar, bermimpi dan beradaptasi.
Tahun belajar, bermimpi dan beradaptasi. sebuah kontemplasi...
Tahun 2014 adalah tahun belajar bagi saya. belajar membuat roti..mulai dari Rye bread,Cinnamon roll, Scones, baguette, ciabatta, dan Pretzel. Membuat roti bukan hal yang mudah ternyata. karena itulah maka saya belajar..
Tahun 2014 bukan tahun yg mudah bagi saya, sebagai trader saham di IHSG.. Jokowi effect, jatuhnya harga minyak dunia, konflik rusia, kenaikan bbm dsb. tapi alhamdulillah modal trading saham saya tumbuh 36% tahun ini.tapi saya masih ingin belajar lagi ilmu ttg Wyckoff Methodology..
Tahun 2014 bukan tahun yang mudah bagi samudra energy. perusahan nasional tempat saya berkerja sebagai ahli geofisika... Rencana IPO terpaksa ditunda karena kondisi perekonomian dunia. Bonus Saham puluhan ribu dollar masih jadi mimpi. Tapi okeylah...paling tidak saya masih boleh bermimpi lagi sampai tahun depan.. Bermimpi adalah salah satu kemewahan yg saya miliki sejak kecil..
Tahun 2014 bukan tahun yang mudah bagi kehidupan masa lalu. Tetapi saya ternyata mampu menghapus cerita kelam masa muda yang galau akan cinta dan bikin muka penuh jerawat itu. Semoga ada yang menjadi bahagia tanpa cerita masa lalu yang menjadi hantu baginya itu..
Tetapi tahun 2015 juga kelihatannya tidak mudah bagi saya. Bersama-teman-teman yang beruntung, kami akan mengarungi masa bakti di organisasi profesi HAGI sampai tahun 2016. Sementara sebagai trader saham, ultimate goal saya adalah profit, maka HAGI adalah organisasi nonprofit. Itu barangkali akan membuat saya menjadi makhluk Amphibi. Maka sekali lagi tahun 2015 sepertinya akan menjadi tahun belajar bagi saya untuk beradaptasi.
Maka dengan belajar, bermimpi dan beradaptasi..mari kita sambut masa depan seberapapun beratnya itu.
Selamat tahun baru 2015 dan semoga tahun 2015 dipenuhi barokah Allah SWT.
Amin.
Friday, October 10, 2014
Momentary Fragment...

itu adalah sebuah fragment yang berisi moment dimana kita berada didalam 1 buah figura waktu, namun dalam dimensi ruang yang berbeda. Saat aku mewarnai langit untukmu, sementara engkau menikmati senja bersamanya.
Setiap fragment dalam hidup bagiku adalah fragment-fragment tidak akan pernah terkuburkan...
Aku rasa ini adalah waktu yang bagus melihat engkau kembali bercahaya dengan nyaman dan gemilang..
Tuesday, May 24, 2011
Sebuah Ode Untuk Ical (Faisal Riza - Astonomi & PSIK ITB-97)
Ical, kawanku...
Hujan disini terasa sedih sekali. Ia tidak jatuh bebas. Jatuh yang segaris lurus mantap menuju tanah seperti yang biasa kita jumpa. Tapi Ia melayang-layang di udara, ragu dan hampa. Terkadang ia turun, seolah malu menatap tanah, Begitu lemah. Maka sedetik ke depan ia melayang naik, menyamping, enggan. Ia basah, namun basahnya pun malu-malu.
Seorang dosen yang semula kita pandang bijak, menceramahi kita
tentang filsafat payung dan hubungannya dengan hujan. Menurutnya, kita hidup di bumi ini harus selalu sedia payung jika datang musim penghujan.Hidup ini harus berjaga-jaga katanya, harus ada rencana ini dan itu untuk mengantisipasi terjadinya sesuatu. Tapi, pikirku pasti dia belum pernah melihat hujan yang sebenar-benarnya hujan. Hujan yang seperti kita punya. Hujan tanpa payung. Dan pasti dia tak pernah menikmati hujan seperti kita menikmatinya.
Hujan kita adalah hujan yang gagah kawan. Dengan berani aku katakan itu padamu. Ia turun bagai butir-butir peluru dimuntahkan dari senapan langit. Ia jatuh. Ohh bukan, Ia bukan jatuh, Ia terjun bebas lepas dari ketidakpastian, seperti pada masa-masa kegamangan yang berkali-kali kita alami bersama dimasa muda, berontak dari jiwa-jiwa kita, dibeberapa tahun yang lalu.
Hujan kita juga adalah hujan yang pemberani, Kawan. Jatuhnya menikam bak pisau ditancapkan sampai ke hulu hati. Menyirami kita dengan gemuruh semangat dan apinya yang membakar perjuangan kita pada masa itu, dalam gerakan mahasiswa menentang penguasa yang serakah.
Apakah engkau masih ingat kawan. Suatu ketika kita bersama teman-teman lainnya menggalang gerakan mahasiswa kampus, menggelar orasi mengobarkan reformasi.
Aku yakin engkau masih mengingatnya Kawan. Siang itu, jalan Ganesha yang awalnya terik panas tiba- tiba menjadi mendung kelabu. Lalu hujan pun jatuh seiring serbuan berlapis-lapis lebih pasukan polisi dan tentara yang menghancurkan barikade kita. Teman-teman pada barisan terdepan telah berjatuhan dihantam pukulan rotan, popor senjata dan gas air mata.
Kita terus bergerak maju Kawan, karena kita berdualah yang kini berada diantara barisan terdepan. Kita saling bergandengan saling jaga. Dada kita bergemuruh, kau dekap kuat-kuat lenganku agar aku tak terjatuh. Berkali-kali ayunan rotan pasukan huru-hara menghantam kepalaku dan kibasan tamengnya menyabet pelipisku. Darah merah pun pecah dari sana melumuri wajahku. Seketika itu kau pun murka, menggeram kau terjang semua tameng, kau rebut semua tongkat pemukul. Engkau menjelma bagai banteng marah yang terluka itu. Dan hasilnya, sore hari setelah semuanya usai, kita duduk - duduk bersama di kantin mahasiswa sambil menghitung dengan bangga berapa banyak memar dan luka yang kita terima.
Pernah suatu kali kita terjebak ditengah hujan, diatas sepeda motor. Sepeda Motor tua miliknya si Sigit, adik kelas kita. Honda bebek 70 berwarna merah marun lusuh, yang tanpa kaca spion dan lampu Sien, hingga aku harus menggunakan anggota tubuh guna memberi tanda saat berbelok ditingkungan. Kau pacu kencang sepeda motor tua itu menembuh derasnya hujan. Tiap butirnya mengiris tipis bagaikan silet, menelusuri permukaan kulit wajah dan mencerabuti tiap helai rambut gondrong kita, tanpa helm pelindung kepala, ngebut menuju kampus, mengejar waktu ujian mata kuliah Termodinamika.
Hujan kita saat itu sungguh gagah kawan.. Begitu gagah, segagah kita yang akhirnya tiba dikampus dengan basah kuyup, lalu ternyata ujian termodinamika saat itu ternyata ditunda.
Di tengah-tengah hujan, kita tak pernah perlu payung, tapi aku menjadi teringat padamu, suatu ketika kau memintaku mencarikan sebuah payung, payung yang besar untuk berdua pintamu . Hah…, aku rasa hal ini pasti sebuah keluarbiasaan yang ajaib dan aku tahu kau sedang jatuh cinta. Ah, Kau payah sekali waktu itu Kawan. Tampangmu begitu sangar, rambutmu gondrong panjang tapi hatimu termehek-mehek oleh lagu jatuh cinta. Payah sekali kau Kawan....Tapi kau tak peduli dengan olokanku dan engkau tetap pergi ke Jurusan Matematika, membawa payung pinjaman untuk menjemput gadis yang kau impikan.
Kita juga punya gerimis Kawan, aku ingat itu. Sebuah gaya gerimis yang melingkupi persahabatan kita dengan kesenduannya.
Gerimis kita itu mengandung sejuta kegelisahan kawan,kegelisahan atas realitas kehidupan di sekitar kita. Kegelisahan yang tercampur dengan kesedihan, tapi sedihnya tetap terasa begitu lugas. Seperti Seekor anak beruang yang menangisi kepergian induknya, Dia harus merelakannya agar hidup mereka tetap berkelanjutan. Seperti itulah gerimis kita jatuh berderap, terus dan terus. Pelan dan berat membuat sesak logika dalam otak kita. Betapa hati kita menjadi miris saat menyaksikan anak-anak kecil tak bisa sekolah karena tak ada biaya, betapa hati kita menangis ketika menyaksikan seorang ayah menangisi jasad anak dan istrinya yang meninggal terkubur menjadi korban bencana tanah longsor di musim penghujan.
Seperti itulah gerimis kita kawan, Seperti hidup yang tahu akan segera berakhir. Gerimis kita menitipkan semua kabar kesedihan kita, tetapi ia juga adalah sedih yang tidak begitu saja pasrah. Maka dengan begitu itu ia sama baiknya pada hujan masa lalu, Hujan itu, hujan kita, yang gagah dan kuat.
Aku teringat juga satu kali, berdua kita berdebat keras didalam ruangan unit kemahasiswaan. Saat itu hujan diluar begitu deras dan kita berselisih, saling menumpas. Tak satu kali aku bermaksud mengatakan apapun, tapi ini mengenai pilihan kataku, sedang engkau berkata ini tentang prinsip hidup yang tak boleh diserahkan begitu saja pada kekalahan, meski datangnya bertubi-tubi. Lalu kita berjanji untuk membuktikannya kepada dunia suatu hari ini nanti. Mungkin dari dalam ruangan itu, badai ambisi kita telah membuncah membelah pecah, merembes keluar, menjelma jadi hujan, menjadi badai. Badai yang meraung-raung mematangkan kita. Tak satupun payung di dunia ini yang cukup buat menahan badai yang kita bangkitkan itu.
Aku merindukanmu Kawan. Apalagi dikala hujan yang malu-malu seperti ini. Hujan yang remah, langit yang terlepas tanpa gayutan , dibuang dari keseluruhan.
Selamat ulang tahun kawan. Kami yang masih di dunia ini semakin menjadi tua, sementara Engkau tentu saja tetap selalu muda dan bergairah disana..
Semoga Allah memberikan Ampunan padamu dan menempatkanmu di Surga-Nya, sehingga kita dapat berkumpul lagi bersama disuatu saat nanti..
Amin....
Roy Baroes -Geofisika- PSIK ITB 97
In Memoriam
Faisal Riza (Ical) Astronomi – PSIK ITB 97
Wednesday, November 10, 2010
Hujan Bulan November (lagi..)
Kita pernah begitu dekat.. saling berdekatan ketika bias pecahan air hujan dika
ca jendela depan kantin mahasiswa menyerbu tubuh kita. Air hujan memang tidak pernah peduli dengan keadaan kita, haru biru kita atau tujuan kita yang terhalang oleh hujan-hujan ini.Kita memang sesaat ini mengeluh, tapi itu hanya untuk sementara saja, karena tak lama waktu berselang, engkau dengan riang mengamati jatuhnya titik-titik air hujan tepat kedalam genangan, yang lalu berebutan untuk mengalir ke selokan di depan kita. Engkau berkata " Inilah yang menyebabkan berkali-kali Aku jatuh cinta pada hujan yang seperti ini."
Sesungguhnyalah aku berniat menghentikan hujan kali in. Aku tak ingin kita terjebak lama di sini. Tetapi sepertinya engkau tahu itu, dan memberi isyarat menghalanginya. Aku tahu engkau sendiri tak menyangsikan kemampuanku untuk menghentikan hujan sederas apapun, kapanpun. Karena aku sesungguhnya telah beberapa kali lulus ujian dengan gemilang untuk mata kuliah meteorology, bersama si Roy Baroes, anak jurusan Geofisika yang menjanjikan kesaktian tersebut jika mau menemaninya mengambil mata kuliah itu bersamanya.
Atau paling tidak, aku bisa saja menggunakan Ilmu hitam pemberian si Trobas, yang cukup ampuh menghentikan hujan dengan hanya meletakkan beberapa potong rumput di saku bajunya, lalu menari-nari, berputar sambil mengucapkan mantera dan jampi-jampi. Tapi aku tidak ingin seperti Si Trobas. Aku ingin menjadi diri sendiri disaat kita bersama. Menjadi apa adaanya secara sederhana.
Ternyata hujan tumpah kebumi kali ini tidaklah lama. Walaupun masih jatuh titik-titik tipis sisanya dari angkasa, tapi telah cukup reda bagi kita untuk terus melanjutkan perjalanan. Hendak kuraih tanganmu, agar kita segera beranjak, tetapi engaku telah lebih dahulu melesat bagai anak-anak burung Prenjak yang menari riang di pucuk-pucuk dedaunan teh. Udara yang segar sehabis hujan membuat engkau melonjak kegirangan. Berlari-lari kecil di sepanjang trotoar jalan Boulevards, lalu berputar ke arah pelataran Tugu Sukarno dan memandang lepas kedepan, kearah gerbang kampus..
Pandangan matamu berbinar tegas, menerobos jejak-jejak hujan yang jatuh dari sela-sela daun pohon Mahoni sepanjang jalan Boluevard kampus didepanmu, sinar matamu cemerlang menyapu bunga-bunga terompet orange dan bunga kertas yang mekarnya disegarkan oleh hujan diatap gerbang kampus kita. Sementara diarah sebaliknya, punggung gunung Tangkuban Perahu yang biasa berdiri gagah, hari ini sedang berselimut kabut.
Engkau terlihat mulai basah di luar sana, pecahan sisa hujan semakin mengerubungimu. Aku sendiri mulai risau, tapi engkau seperti tahu kerisauanku dan selalu berhasil meredakan semua risau itu.
" Ga apa-apa, aku kuat kok kalau hanya hujan kecil seperti ini". Engkau tersenyum. Senyuman yang seperti senyuman milik Bidadari dari langit sorga. Membuat segala risauku pergi dan aku menikmati setiap detik kebahagiannya.
"Ayo kita ke labnya si Roy..., Pasti jam segini dia masih tidur..apalagi hujan begini.Dasar tuh anak!" serumu tiba-tiba.
Engkau meraih tanganku seakan ingin mengajakku untuk terbang, lompatan-lompatan waktu terasa begitu cepat bagiku. Engkau sudah mendekat kembali hingga aku bisa melihat titik air yang bergayut di anak rambutmu.
" Ayolah.... kalau dia ga mau bangun, kita guyur aja.. ya.." balasku.
"iya.. hi..hi..." engkau tertawa dengan renyah.
Kali ini tujuan kita adalah membangunkan si Roy yang pasti masih tidur di Labnya, Labtek biru yang terletak dibelakang gedung Oktagon, bersebelahan dengan jurusan Biologi dan berhadapan dengan jurusan Teknik kimia. Si Roy ini memang suka bangun siang, sebagai konsekuensi dia ikut dalam project dosennya, katanya agar bisa bayar uang kuliah semester depan.
Bangunnya siang, sering telat kuliah, sering telat juga bayar uang kuliah. kami sering bersama dalam suka dan duka,dimana aku sangat percaya pada prinsip serta keteguhan anak muda yang sejak lulus sekolah menengahnya sudah merantau dari kampung kelahiranya di pulau sumatra. Dan selama ini hampir tidak ada rahasia yang menjadi penting dan tidak terjaga teguh diantara kami berdua.
Engkau berjalan ringan dengan kaki-kaki mungilmu mendahuluiku beberapa jarak langkah. Melewati Kembali Tugu Sukarno, terus melintasi kolam Indonesia tenggelam, berbelok didepan plaza Widya, menyusuri koridor ruang Kuliah Teknik Fisika dan terus hingga kita sampai di selasar labtek biru. Berhenti didepan jendela sebuah lab yang terbuka.
Engkau berlari kecil agar lebih cepat sampai kesana.
Di depan jendela kaca lab, engkau melongok seketika ke dalamnya dan berteriak
" Roooyyyy!!.. Bangun!!!!". Beberapa detik beranjak, engkau kaku seketika hingga aku tiba tepat dibelakangmu. Hening.. semua terdiam.
Di dalam Lab penuh orang, kebanyakan mahasiswa dan beberapa Dosen ada disana.Ternyata Roy tidak ada..
" Maaf Mbak, Roy nya tidak ada.Tadi pagi sudah keluar, coba cari di ruangan Himpunan, atau di unitnya di PSIK." Ujar seseorang yang mungkin dosen.
Wah.. gawat ini pikirku, Aku melihat engkau beringsut pelan kabur dari pandangan mereka yang masih lekat kepadaku.
"Maaf Pak, mengganggu. Roynya udah keluar ya? kalau begitu kami coba cari ke Himpunan atau ke PSIK aja. Permisi" ujarku.
Sementara Engkau sudah tertawa cekikikan , menjauh dari bawah jendela.
" Awas yah kamu..."
Kali ini kita berjalan sejajar menyusuri koridor labtek biru, keluar disamping gedung GSG dan gedung PAU. Kejadian tadi paling tidak meredakan riak-riak mu yang bagai burung Prenjak itu.
" Heh.. Lain kali ga boleh begitu ya.."
" Maaaffff.. biasanya si Roy tidur dibawah jendela itu kok... ga tahu kalau dia udah bangun.Pasti dia pindah tidur ke PSIK karena diusir dari Labnya" ujarmu dengan binar bola mata yang mekar bagaikan matahari yang terbit membawa ide cemerlang.
" Bisa aja Si Roy banyak kerjaan malam tadi, terus ga enak sama dosen dan mahasiswa lain, jadi dia pagi-pagi pindah ke PSIK" ujarku sekenanya.
" Aha..! berarti kita jadi dong kita guyur.. he.hee".
Hujan sudah habis... bau tanah basah menyebar masuk ke paru-paru hingga kita tiba di depan PSIK,SC-W09.. Sunyi senyap secara tidak biasa. Mesin fotokopi yang menjadi saksi bisu aktifitas anak-anak PSIK juga tidak bersuara. Engkau berjingkat pelan kedalam, lalu menoleh ke arahku sambil meletakkan jari telunjuk dipinggiran bibirmu, " Ssssstt, ada Ebonk, Roy, sama Erik tuh.... he..he."
Ujung mataku melirik kedalam ruangan, Roy, Ebonk dan Erik tidur berpelukan dengan berbagai macam gaya, bertumpuk dalam dipan kecil, berebut Sleeping bag yang kumal dan satu-satunya.. Sejenak hening, aku beranjak duduk di depan pintu diseberang jendela kaca, lalu tiba-tiba..
"Baaaannngggguunnnn... ada banjir !!!! bangunnnnn... cepaattt" suaramu membahana membahana sambil menyiprat-nyipratkan air dari sebotol air mineral. suasana heboh... 3 orang yang sedang tidur didalam ruangan sontak berhamburan keluar dengan muka bantal..
Engkau tertawa riang melihat semuanya.. Riang yang membawa jiwaku berhamburan ke angkasa..tempat kini aku berada..
Jakarta, 10 November 2010
Kepada sahabat dan pahlawan kami.
Catatan :
PSIK : Perkumpulan Study Ilmu Kemasyarakatan,
SC-W09 : Alamat Sekretariat PSIK

